Masuk

Ingat Saya

Antara Cecak, Nasi Padang, dan Bangsa

Selamat sore, Indonesia! Di  tanahmu, aku berdiri. Masih seperti ketika aku sekolah dasar, aku masih mengagumi kibaran bendera di tengah halaman sekolah. Dadaku masih membuncah ketika mendengar lagu Indonesia Raya. Ketika lagu Indonesia dikumandangkan, langsung posisi tubuhku siap sempurna. Aku masih bangga mengenalkan Indonesia meski hanya lewat postingan makanan di Instagram. Ah, maafkan aku, Indonesia, hal sepele itu pun sangat membuatku bangga.

Sebagai pencinta makanan Nusantara, tentunya aku sangat bangga ketika ada satu orang bule berkomentar, “Wow! Delicious!”

“Ah, kau, Dib! Kerjanya cuma bangga dan bangga! Apa yang kauberikan pada bangsa?” tanya Cecak di dinding kamar.

“Nah, itulah, Cak! Bangga saja sudah membuatku bahagia, apalagi ada yang bisa kuberikan pada bangsa tercinta. Bayangkan saja, Cak, jika rasa bangga dan cinta tanah air sudah terkikis dari hati setiap rakyat, apalah arti nasi padang, soto lamongan, sate madura, ketupat kandangan, dan kawan-kawan?”

“Dib Dib, makanan lagi makanan lagi! Kerjamu cuma makan dan bicara doang!” Kali ini si Cecak menghentakkan ekornya ke lantai yang dingin.

“Begini, Cak, rupanya kau belum paham apa itu kebanggaan. Kebanggaan tak selalu soal sikap sombong. Bangga adalah perasaan sukacita dan penuh syukur. Jika kau tidak bangga dengan ekormu yang bisa putus itu, tentu kau tidak bisa menyelamatkan diri dari terkaman si kucing, bukan? Jika rakyat Indonesia tidak punya rasa bangga kepada tanah air, tentu pertahanan dan keamanan NKRI bakal terancam. Kau juga perlu tahu, Cak, makanan Nusantara itu sangat beragam. Hampir semua orang menyukai segala macam makanan dari berbagai daerah di Indonesia. Kau kenal nasi padang? Nasi padang itu pemersatu bangsa! Nasi padang membantu para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Nasi padang membuat damai Indonesia. Begitu juga makanan lainnya.”

“Teruslah kau bicara, Dib! Apa hubungannya nasi padang dengan bangsa?” Cecak asyik mengunyah remah-remah roti.

“Kau harus tahu dan belajar sejarah. Kenapa nasi padang dibeli dengan dibungkus selalu lebih banyak daripada makan di tempat?”

“Kenapa kau tanya balik? Tak tahulah aku, Dib!”

“Menurut sejarah, pertama kali nasi padang dijual dengan dibungkus dan porsinya banyak adalah karena rasa sayang si penjual kepada warga yang tak mampu membeli dengan harga mahal. Porsinya dilebihkan biar bisa dimakan dua orang, biar bisa mengisi tenaga dan berjuang membela bangsa. Bayangkan, nasi padang saja bisa membantu sesama.”

“Nah, kenapa kamu tidak membantu sesama?” celetuk Cecak.

“Nasi padang sekarang ada di mana-mana. Ke mana pun kau melangkah, kautemui warung nasi padang. Cak, perut damai, maka bangsa pun akan damai. Itu artinya apa? Kesejahteraan bangsa Indonesia tetap harus diperjuangkan meski Indonesia sudah merdeka puluhan tahun lamanya. Kau juga harus tahu, di warung nasi padang itu, masyarakat dari berbagai suku menikmati makanan. Tak pandang agama, suku, ataupun status jomblo atau sudah berbuntut, semua dilayani. Mestinya begitulah Indonesia. Semua dilayani, semua damai, semua…”

“Diiib! Kau jangan lihat aku kalau bilang jomblo!”

“Wah, maaf, Cak, sengaja. Damai, ya! Nanti aku kasih nasi padang sambal ijo, deh.”

 

Selamat sore, Indonesia! Aku masih berdiri di tanahmu. Aku masih bangga mendengar lantunan lagu Indonesia Raya di pertandingan-pertandingan olahraga. Aku masih menunggu lantunan lagu kebangsaan di televisi-televisi swasta (tidak hanya saat hari kemerdekaan) diperdengarkan setiap pagi. Aku masih berbincang dengan Cecak tentang makanan, budaya, batik, lagu, rumah petani yang tak berlantai, serta orang-orang yang sibuk berdebat politik dan mengabaikan kebanggaan pada bangsanya sendiri.

“Cak, hanya kebanggaan pada tanah airlah yang membuat hati bahagia dan semangat berbuat untuk bangsa.”

Cecak manggut-manggut dan mulai berdendang dengan khidmat. Dari layar laptopku, mengalun lagu Indonesia Raya, dilanjutkan Garuda Pancasila.

“Syukurlah dia telah lupa dengan nasi padang. Ups!”

 

Jogja, 240616

lathifahedib86
Pejalan yang terus bermimpi menuju titik nol Indonesia.